PEMBAHASAN
1. Sistem
Pertanian Terpadu dan Pertanian Berkelanjutan
1.1
Sistem Pertanian Terpadu (Pertanian
Organik)
Pertanian organik
didefinisikan sebagai “sistem produksi
pertanian yang holistic dan terpadu, dengan cara mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas
agro-ekosistem secara alami, sehingga menghasilkan pangan dan serat yang cukup,
berkualitas, dan berkelanjutan” (Anonymous, 2000).
v Prinsip-Prinsip Pertanian
Organik
Menurut IFOAM (2005), terdapat
beberapa prinsip pertanian organik yang harus digunakan secara menyeluruh dan
dibuat sebagai prinsip-prinsip etis yang mengilhami tindakan:
a.
Prinsip
kesehatan
b.
Prinsip
Ekologi
c.
Prinsip
keadilan
d.
Prinsip
perlindungan
1.2
Pertanian Berkelanjutan
Teknologi
pertanian berkelanjutan (Sustainable
Agriculture) sebagai padanan istilah agroekosistem pertama kali dipakai
sekitar awal tahun 1980-an oleh para pakar pertanian FAO (Food Agriculture Organization). Agroekosistem sendiri mengacu pada
modifikasi ekosistem alamiah dengan sentuhan campur tangan manusia untuk
menghasilkan bahan pangan, serat, dan kayu untuk memenuhi kebutuhan dan
kesejahteraan manusia. Conway (1984) juga menggunakan istilah pertanian
berkelanjutan dengan konteks agroekosistem yang berupaya memadukan antara
produktivitas, stabilitas, dan pemerataan.
Konsep
pertanian berkelanjutan mulai dikembangkan sejak ditengarai adanya kemerosotan
produktivitas pertanian (leaving off)
akibat revolusi hijau (green revolution).
Green revolution memang sukses dengan
produktivitas hasil panen biji-bijian yang menakjubkan, namun ternyata juga
memiliki sisi buruk, misalnya erosi tanah yang berat, punahnya keanekaragaman
hayati, pencemaran air, bahaya residu bahan kimia pada hasil-hasil pertanian,
dan lain-lain (Sullivan dan Diver, 2001).
2. Pola
Sistem Pertanian Terpadu
Pertanian pada umumnya dikenal hanya
sebagai tanah dan tanaman yang dikelola. Namun di luar itu pertanian mempunyai
peranan lain yang berhubungan dengan bidang lain. Peranan ini tentunya
menguntungkan bagi kedua bidang.
System pertanian terpadu merupakan
system dimana pertanian dapat bermanfaat dan berperan penting dalam suatu
bidang tertentu baik itu secara langsung maupun tidak langsung, begitu pula
sebaliknya. Namun tentunya tidak semua bidang dapat menerapkan system pertanian
di dalamnya. Umumnya bidang-bidang tersebut mempunyai hubungan tertentu yang
lebih spesifik dengan peertanian. Adapun beberapa bidang yang di dalamnya
pertanian dapat diterapkan, diantaranya adalah perkebunan, kehutanan,
perikanan, peternakan dan wisata.
2.1. Pertanian
– Kehutanan
Sistem pertanian terpadu pertanian-kehutanan digunakan untuk mengurangi
penebangan hutan untuk lahan pertanian, dan menjadi solusi untuk keterbatasan
lahan pertanian. Salah satu bentuk system pertanian terpadu pertanian-kehutanan
adalah agroforestry yaitu penanaman tanaman tahunan, dengan tanaman semusim.
Tanaman tahunan, dalam bentuk tanaman hutan, keras, guna untuk rehabilitasi,
disamping untuk rehabilitasi, ditanamkan juga tanaman semusim untuk faktor
ekonomi.
Agroforestri dapat dilihat pada sistem penanamannya. Contohnya adalah
penanaman tanaman semusim yang diberi sela dengan tanaman tahunan. Padi dengan pematang sawah berupa
pohon nangka atau pohon sengon dapat dijadikan contoh dari sistem ini.
Manfaat pertanian dalam kehutanan adalah dengan mengetahui sistem penanaman
yang benar dapat dihasilkan produk yang lebih. Di sisi lain lingkungan terjaga
dengan adanya tumbuhan (yang hidup/ daya panennya dalam jangka waktu lama) yang
dapat menjaga kadar air tanah, manusia juga mendapatkan hasilnya di saat panen.
Selain itu, keberadaan sistem ini juga dapat menjadikan kelestarian alam lebih
terjaga dan rapi.
2.2. Pertanian
– Perikanan
Kaitan antara bidang pertanian dan perikanan tentunya ada pada pertanian
dengan sistem yang membutuhkan air cukup banyak, misalnya pada lahan sawah
irigasi. Pada lahan ini dapat dilakukan usaha tani berupa mina padi. Secara
umum mina padi berarti memanfaatkan air pada saat penanaman padi untuk
kehidupan ikan.
Sistem mina padi merupakan cara pemeliharaan ikan di sela-sela tanaman
padi, sebagai penyelang diantara dua musim tanam padi atau pemeliharaan ikan
sebagai pengganti palawija di persawahan. Jenis ikan yang dapat dipelihara pada
sistem tersebut adalah ikan mas, nila, mujair, karper, tawes dan lain-lain.
Ikan mas dan karper merupakan jenis ikan yang paling baik dipelihara di sawah,
karena ikan tersebut dapat tumbuh dengan baik meskipun di air yang dangkal,
serta lebih tahan terhadap matahari. Agar pertumbuhan tanaman padi tidak
terganggu, pemeliharaan ikan di sawah harus disesuaikan dengan sistem pengairan
yang ada, sehingga produksi padi tidak terganggu.
Usaha mina padi selain merupakan usaha yang menguntungkan, juga dapat
meningkatkan pendapatan petani, serta membantu program pemerintah dalam usaha
memenuhi gizi keluarga.
2.3. Pertanian
– Peternakan
Hubungan antara pertanian dengan peternakan dalam sistem pertanian terpadu
sangat beraneka ragam, tergantung pada sudut pandang yang diambil. Salah satu
manfaat dari mempelajari sistem pertanian terpadu adalah bisa mengetahui
hubungan saling ketergantungan antara pertanian dengan peternakan. Selain itu
dapat pula diketahui berbagai keuntungan yang bisa diambil saat mempelajari
hubungan antara sistem pertanian dengan peternakan.
Keuntungan yang bisa diambil dari peternakan bagi pertanian adalah
pemanfaatan tenaga hewan ternak untuk kepentingan pertanian. Contoh manfaat
yang bisa diambil dari peternakan adalah kotoran hewan ternak dapat digunakan
sebagai pupuk kandang bagi tanaman. Tenaga hewan ternak juga dapat digunakan
sebagai tenaga pengolah lahan dan dapat juga dimanfaatkan sebagai tenaga
pengangkutan hasil pertanian di mana akan menghemat biaya karena tidak
membutuhkan bahan bakar layaknya kendaraan bermotor.
Sama dengan peternakan, pertanian pun sangat bermanfaat bagi dunia
peternakan. Salah satu faktor yang harus terpenuhi dalam peternakan adalah
kebutuhan akan pakan ternak Dari pertanian akan dihasilkan bahan-bahan yang
dapat diolah menjadi pakan ternak. Pertanian sangat berperan dalam memenuhi
keutuhan pakan ternak karenatidak semua hewan ternak dapat diberi pakan dengan
bahan makanan yang diambil dari alam. Banyak hewan ternak yang pemenuhan
pakannya sangat bergantung pada pertanian. Contohhewan ternak yang membutuhkan
pertanian adalah unggas. Pada umumnya unggas memakan biji-bijian di mana
biji-bijian ini hanya akan diperoleh dengan pertanian. Oleh sebab itu,
keberadaan pertanian menjadikan kebutuhan pakan ternak akan mudah terpenuhi.
2.4. Pertanian
– Wisata
Hubungan antara pertanian dengan wisata sering disebut
dengan agrowisata. Agrowisata adalah salah satu bentuk pariwisata yang obyek
wisata utamanya adalah lanskap pertanian, maka dapat dikatakan bahwa agrowisata
merupakan wisata yang memanfaatkan obyek-obyek pertanian. Agrowisata juga
merupakan kegiatan wisata yang terintegrasi dengan keseluruhan sistem pertanian
dan pemanfaatan obyek-obyek pertanian sebagai obyek wisata, seperti teknologi
pertanian maupun komoditi pertanian.
Beberapa sumber menjelaskan bahwa agrowisata adalah salah
satu bentuk kegiatan wisata yang dilakukan di kawasan pertanian yang menyajikan
suguhan pemandangan alam kawasan pertanian (farmland
view) dan aktivitas di dalamnya seperti persiapan
lahan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, pengolahan hasil panen sampai dalam
bentuk siap dipasarkan dan bahkan wisatawan dapat membeli produk pertanian
tersebut sebagai oleh-oleh. Agrowisata tersebut ikut melibatkan wisatawan dalam
kegiatan-kegiatan pertanian.
Agrowisata umumnya berada pada daerah yang memiliki iklim
dingin atau dengan kata lain ada pada dataran tinggi di mana pertanian dapat
terlaksana dengan baik. Pengembangan wisata dengan metode pertanian memiliki
kesenangan tersendiri. Di dalamnya para wisatawan dapat mengetahui lebih lanjut
tentang pertanian dan bahkan dapat melakukannya. Pendekatan ini secara tidak
langsung menambah pengetahuan mengenai pertanian bagi para wisatawan. Selain
itu, dengan adanya agrowisata petani dan masyarakat sekitar pun
mendapatkan pendapatan yang lebih. Keberadaan tempat wisata menyebabkan
masyarakat turut berperan dalam meramaikan pasarnya.
Manfaat lain dari agrowisata adalah kelestarian alam
sekitar terjaga. Agrowisata pada
prinsipnya merupakan kegiatan industri yang mengharapkan kedatangan konsumen
secara langsung ditempat wisata yang diselenggarakan. Aset yang penting untuk
menarik kunjungan wisatawan adalah keaslian, keunikan, kenyamanan, dan
keindahan alam. Oleh sebab itu, faktor kualitas lingkungan menjadi modal
penting yang harus disediakan, terutama pada wilayah-wilayah yang dimanfaatkan
untuk dijelajahi para wisatawan. Menyadari pentingnya nilai kualitas lingkungan
tersebut, masyarakat/ petani setempat perlu diajak untuk selalu menjaga keaslian, kenyamanan, dan
kelestarian lingkungannya.
3. Sumber
Daya Produksi Pertanian
Sumber daya pertanian bisa merupakan
input atau faktor-faktor produksi dalam proses produksi pertanian. Proses
produksi pertanian adalah proses yang mengkombinasikan faktor-faktor produksi
pertanian (input) untuk menghasilkan produksi pertanian (output). Fungsi
produksi dalam teori produksi menggambarkan hubungan teknis yang merubah input
(sumberdaya) menjadi output (komoditi) (Debertin, 1986).
Sumber daya produksi pertanian berasal
dari dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
3.1. Faktor
Internal (Input)
Faktor internal terdiri dari lahan/
tanah, tenaga kerja, modal, lingkungan, teknologi, manajemen, dan karakteristik
sosial petani (Jatileksono dalam Suhartini dkk, 2006)
a.
Lahan/
tanah: Lahan merupakan salah satu faktor produksi utama dalam proses produksi
pertanian. Supply lahan jumlahnya tetap, sedangkan demand selalu meningkat dari
waktu ke waktu, sehingga menyebabkan harga tanah selalu meningkat.
b.
Tenaga
kerja: Tenaga kerja merupakan faktor yang sangat penting di dalam menjalankan
proses produksi pertanian. Tenaga kerja ini terdiri dari tenaga kerja dalam
keluarga dan tenaga kerja dari luar keluarga.
c.
Modal:
Modal terdiri dari modal lancar (bibit/ benih, pupuk, dan pestisida) dan modal
tetap seperti alat-alat pertanian (traktor, cangkul, sabit, alat perontok padi,
bangunan, dll)
d.
Lingkungan:
Pertanian sangat terkait dengan lingkungan, baik lingkungan sebagai sumberdaya
yang digunakan dalam faktor produksi pertanian, maupun pertanian juga
menghasilkan jasa lingkungan positif atau eksternalitas positif.
e.
Teknologi:
Teknologi mempunyai peran penting dalam proses produksi pertanian, seperti
teknologinmekanis (mesin), teknologi kimia (pupuk dan pestisida kimia),
teknologi biologi ( ekstrak hayati dan nabati), dan teknologi asli/ lokal.
f.
Manajemen:
Manajemen usahatani adalah kemampuan petani di dalam merencanakan, mengorganisir,
mengarahkan, mengkoordinasikan dan mengawasi faktor produksi yang dikuasai
sehingga mampu menghasilkan produksi (output) seperti yang diharapkan.
g.
Karakteristik
sosial petani: karakteristik sosial ekonomi petani juga mempengaruhi proses
produksi pertanian, terutama berkaitan dengan proses pengambilan keputusan
dalam pengelolaan usahatani, diantaranya adalah pendidikan petani, pengalaman
petani, dan keanggotaan dalam organisasi misalnya kelompok tani dll.
3.2. Faktor
Eksternal (Output)
Faktor eksternal produksi pertanian
lebih mengarah pada hasil produksi seperti pasca panen dan pemasaran hasil
produksi pertanian.
Pasca panen membahas tentang manajemen
hasil produksi, sedangkan pemasaran akan membahas tentang bagaimana sistem
pemasarannya.
4. HEIA,
LEIA, dan LEISA Dalam usahatani
4.1. HEIA
(Height External Input Agriculture)
HEIA
(High External Input Agriculture)
merupakan sistem pertanian yang menggunakan input luar secara berlebihan (Reijntjes
et al. 1999).
HEIA
sangat tergantung pada input luar berupa senyawa kimia sintetis (pupuk,
pestisida), benih hibrida, irigasi dan mekanisasi yang membutuhkan bahan bakar
minyak. Sistem ini hanya mungkin diterapkan pada daerah yang kondisi ekologinya
relatif seragam, berpotensi besar dan mudah dijangkau sistem komunikasi serta
transportasi. Pemanfaatan input luar yang berlebihan, walaupun dapat
meningkatkan produksi secara signifikan, mengakibatkan pengaruh negatif
terhadap kondisi ekologi, ekonomi dan sosial. Revolusi hijau yang merupakan
menifestasi dari sistem ini mengakibatkan peningkatan harga pupuk, pestisida
kimia dan bahan bakar, namun sebaliknya menurunkan harga komoditas pertanian
akibat produksi yang berlebihan. Hal ini tentu saja sangat merugikan petani.
Selain itu ketergantungan akan pupuk dan pestisida sintetis semakin meningkat
terus menerus dan menimbulkan pengaruh buruk pada keseimbangan lingkungan dan
kesehatan manusia.
4.2. LEIA
(Low External Input Agriculture)
LEIA
(Low External Input Agriculture)
merupakan sistem yang memanfaatkan sumber daya lokal yang sangat intensif
dengan sedikit atau sama sekali tidak menggunakan input luar sehingga terjadi
degradasi sumber daya alam (Reijntjes et al. 1999).
LEIA
pada umumnya dipraktekkan di wilayah miskin, bermasalah, dengan lingkungan
fisik serta infrastruktur yang kurang berkembang sehingga tidak memungkinkan
pemanfaatan input luar secara luas. Dalam sistem LEIA yang berfungsi baik
tumbuhan dan hewan tidak hanya memiliki fungsi produktif melainkan juga fungsi
ekologis, yaitu menghasilkan bahan organik, memompa hara, mengendalikan erosi
dan sebagainya sehingga menjamin ketersediaan input dalam. Tetapi fungsi
ekologis ini sering lebih rendah dari yang seharusnya karena manusia mengambil
bagian produksi dari ekosistem tersebut. Akibatnya produksi tanaman menurun,
dan untuk mengimbanginya petani mengeksploitasi lahan mereka sampai melampui kapasitas
lahan.
4.3. LEISA
(Low External Input Sustainable
Agriculture)
LEISA
menurut Reijntjes et al. (1999) dan Plucknert dan Winkelmann (1995) tidak
bertujuan untuk mencapai produksi maksimal dalam jangka pendek, melainkan untuk
mencapai tingkat produksi yang stabil dan memadai dalam jangka panjang. Sistem
ini mengacu pada ciri-ciri:
a.
berusaha
mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal dengan mengkombinasikan berbagai
komponen sistem usaha tani (tanaman, hewan, tanah, air, iklim dan manusia)
sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang besar.
b.
berusaha
mencari cara pemanfaatan input luar hanya bila diperlukan untuk melengkapi
unsur-unsur yang kurang dalam ekosistem dan meningkatkan sumber daya biologi,
fisik dan manusia. Dalam memanfaatkan input luar ditekankan pada maksimalisasi
daur ulang dan minimalisasi kerusakan lingkungan.
Prinsip-prinsip
dasar ekologi pada LEISA berdasarkan Reijntjes et al. (1999) dikelompokkan
sebagai berikut:
a.
menjamin
kondisi tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman, khususnya dengan mengelola
bahan organik dan meningkatkan kehidupan dalam tanah.
b.
mengoptimalkan
ketersediaan dan menyeimbangkan arus unsur hara, khususnya melalui pengikatan
nitrogen, pemompaan unsur hara, dan pemanfaatan pupuk luar sebagai pelengkap.
c.
meminimalkan
kerugian sebagai akibat radiasi matahari, udara dan air dengan pengelolaan
iklim mikro, pengeloaan air dan pengendalian erosi.
d.
meminimalkan
serangan hama dan penyakit terhadap tanaman dan hewan melalui pencegahan dan
perlakuan yang aman.
e.
saling
melengkapi dan sinergis dalam penggunaan sumber daya genetik yang mencakup
penggabungan dalam sistem pertanian terpadu dengan tingkat keanekaragaman
fungsional yang tinggi.
Perwujudan
pertanian ideal semacam itu akan dipercepat dengan partisipasi bersama antara ilmuwan
dan petani. Ilmuwan menyumbangkan hasil pengkajian dan penelitian yang relevan
untuk pelaksanaan sistem tersebut, dan petani mengembangkan pengalaman yang
dinilai efektif. Selama ini banyak petani yang melakukan kegiatan usaha tani
tertentu yang mungkin tidak mereka pahami aspek ilmiahnya, namun secara turun
temurun dilakukan karena menunjukkan hasil yang efektif. Petani dan ilmuwan
harus bekerja sama agar pengalaman praktis dan pemahaman ilmiah dapat dipadukan
sehingga diharapkan efektivitasnya meningkat. Misalnya, salah satu kebiasaan
petani mengendalikan gulma dengan memberi mulsa menggunakan organ-organ
tumbuhan tertentu sebenarnya merupakan aplikasi dari mekanisme fisiologi
tumbuhan, yaitu alelopati, yang mempunyai peluang besar untuk dikembangkan
melalui penelitian.
5. Analisis
Usahatani Jagung dalam Sistem Usahatani Campuran
Menghitung
keuntungan bersih dan penjelasan bagaimana cara memaksimalkan keuntungan dari
analisis usahatani jagung dalam sistem usaha tani campuran (Mixed Farming System) terpadu dengan
pendapatan 3,5 ton dengan penjualan Rp. 2.500 dalam kasus dibawah ini:
|
KETERANGAN
|
QTY
|
SATUAN
|
HARGA (RP)
|
TOTAL (RP)
|
|
Benih
Jagung
|
10
|
kg
|
50.000
|
500.000
|
|
Pupuk
1.
Urea
2.
TSP
36
3.
KCL
|
250
75
40
|
Kg
Kg
kg
|
1.800
2.000
1.950
|
450.000
150.000
78.000
|
|
Insektisida
|
2
|
Lt
|
50.000
|
100.000
|
|
Tenaga
Kerja
1.
Pengolahan
lahan (3 hr)
2.
Penanaman
(2 hr)
3.
Penyiangan
dan pembumbunan (borongan)
4.
Pemupukan
(2 hr)
5.
Pemeliharaan
lain
|
4
3
1
2
1
|
Org
Org
Paket
Org
keg
|
40.000
40.000
100.000
40.000
100.000
|
480.000
240.000
100.000
160.000
100.000
|
|
Penen
|
1
|
keg
|
150.000
|
150.000
|
|
Biaya
lain-lain
|
1
|
Keg
|
100.000
|
100.000
|
|
Jumlah
|
|
|
675.750
|
2.608.000
|
|
Keuntungan Bersih
|
|
|
|
6.142.000
|
Cara kerja:
keuntungan
bersih = jumlah pendapatan – jumlah modal
= Rp. 8.750.000 – Rp. 2.608.000
= Rp. 6.142.000
Cara menghitung pendapatan adalah hasil panen (3,5 ton =
3.500 kg) dikalikan dengan harga penjualan (Rp. 2.500/ kg), maka didapatkan
hasil Rp. 8.750.000.
Cara menghitung keuntungan bersih adalah jumlah
pendapatan (Rp. 8.750.000) dikurangi dengan jumlah modal keseluruhan (Rp.
2.608.000), maka didapatkan hasil sejumlah Rp.
6.142.000.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous.
2000. Organic Farming. Agriculture, Food and Rural Revitalization,
Saskatchewan. Canada.
Untung,
K.1984. Pengantar Analisis Pengendalian Hama Terpadu. Andi Offset. Yogyakarta.
92h.
Sullivan
P, and Diver, S. 2001. Overview of Cover
Crops and Green Manures. Appropriate Technology Transfer for Rural Areas. www.attra.ncat.org.
Debertin,
D,L. 1986. Agricultural Produktion
Economics. Macmillan Publishing Company New York. Collier Macmillan
Publishers London.
Suhartini,
Sri Widodo, Irham, S. Hartono. 2006. Kualitas
Lingkungan Usahatani Padi Organik dan Pengaruhnya pada Keuntungan Usahatani.
Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian “AGROS”. Universitas Janabadra. Yogyakarta.
Plucknert,
Winkelmann DI. 1992. Technology for
Sustainable Agriculture. Scientific American. 182 – 186.
Reijntjes
C, Haverkort B, Waters-Bayers A. 1999. Pertanian
Masa Depan. Diterjemahkan oleh Y. Sukoco. Yogyakarta: Kanisius.
Saya ingin berbagi kesaksian tentang bagaimana layanan pendanaan Le_Meridian membantu saya dengan pinjaman 2.000.000,00 USD untuk membiayai proyek pertanian ganja saya, saya sangat berterima kasih dan saya berjanji untuk membagikan perusahaan pendanaan yang sah ini kepada siapa pun yang mencari cara untuk memperluas bisnisnya project.the company adalah perusahaan pendanaan UK / USA. Siapa pun yang mencari dukungan keuangan harus menghubungi mereka di lfdsloans@outlook.com Atau lfdsloans@lemeridianfds.com Bpk. Benjamin juga menggunakan whatsapp 1-989-394-3740 untuk mempermudah segala pemohon.
BalasHapus