Jumat, 18 Juli 2014

PEMBAHASAN

1.    Sistem Pertanian Terpadu dan Pertanian Berkelanjutan
            1.1  Sistem Pertanian Terpadu (Pertanian Organik)
Pertanian organik didefinisikan sebagai “sistem produksi pertanian yang holistic dan terpadu, dengan cara mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro-ekosistem secara alami, sehingga menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan” (Anonymous, 2000).
v  Prinsip-Prinsip Pertanian Organik
Menurut IFOAM (2005), terdapat beberapa prinsip pertanian organik yang harus digunakan secara menyeluruh dan dibuat sebagai prinsip-prinsip etis yang mengilhami tindakan:
a.    Prinsip kesehatan
b.    Prinsip Ekologi
c.    Prinsip keadilan
d.    Prinsip perlindungan

            1.2  Pertanian Berkelanjutan
Teknologi pertanian berkelanjutan (Sustainable Agriculture) sebagai padanan istilah agroekosistem pertama kali dipakai sekitar awal tahun 1980-an oleh para pakar pertanian FAO (Food Agriculture Organization). Agroekosistem sendiri mengacu pada modifikasi ekosistem alamiah dengan sentuhan campur tangan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, serat, dan kayu untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan manusia. Conway (1984) juga menggunakan istilah pertanian berkelanjutan dengan konteks agroekosistem yang berupaya memadukan antara produktivitas, stabilitas, dan pemerataan.
Konsep pertanian berkelanjutan mulai dikembangkan sejak ditengarai adanya kemerosotan produktivitas pertanian (leaving off) akibat revolusi hijau (green revolution). Green revolution memang sukses dengan produktivitas hasil panen biji-bijian yang menakjubkan, namun ternyata juga memiliki sisi buruk, misalnya erosi tanah yang berat, punahnya keanekaragaman hayati, pencemaran air, bahaya residu bahan kimia pada hasil-hasil pertanian, dan lain-lain (Sullivan dan Diver, 2001).

2.    Pola Sistem Pertanian Terpadu
Pertanian pada umumnya dikenal hanya sebagai tanah dan tanaman yang dikelola. Namun di luar itu pertanian mempunyai peranan lain yang berhubungan dengan bidang lain. Peranan ini tentunya menguntungkan bagi kedua bidang.
System pertanian terpadu merupakan system dimana pertanian dapat bermanfaat dan berperan penting dalam suatu bidang tertentu baik itu secara langsung maupun tidak langsung, begitu pula sebaliknya. Namun tentunya tidak semua bidang dapat menerapkan system pertanian di dalamnya. Umumnya bidang-bidang tersebut mempunyai hubungan tertentu yang lebih spesifik dengan peertanian. Adapun beberapa bidang yang di dalamnya pertanian dapat diterapkan, diantaranya adalah perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan dan wisata.

2.1.    Pertanian – Kehutanan
Sistem pertanian terpadu pertanian-kehutanan digunakan untuk mengurangi penebangan hutan untuk lahan pertanian, dan menjadi solusi untuk keterbatasan lahan pertanian. Salah satu bentuk system pertanian terpadu pertanian-kehutanan adalah agroforestry yaitu penanaman tanaman tahunan, dengan tanaman semusim. Tanaman tahunan, dalam bentuk tanaman hutan, keras, guna untuk rehabilitasi, disamping untuk rehabilitasi, ditanamkan juga tanaman semusim untuk faktor ekonomi.
Agroforestri dapat dilihat pada sistem penanamannya. Contohnya adalah penanaman tanaman semusim yang diberi sela dengan tanaman tahunan. Padi dengan pematang sawah berupa pohon nangka atau pohon sengon dapat dijadikan contoh dari sistem ini.
Manfaat pertanian dalam kehutanan adalah dengan mengetahui sistem penanaman yang benar dapat dihasilkan produk yang lebih. Di sisi lain lingkungan terjaga dengan adanya tumbuhan (yang hidup/ daya panennya dalam jangka waktu lama) yang dapat menjaga kadar air tanah, manusia juga mendapatkan hasilnya di saat panen. Selain itu, keberadaan sistem ini juga dapat menjadikan kelestarian alam lebih terjaga dan rapi.

2.2.    Pertanian – Perikanan
Kaitan antara bidang pertanian dan perikanan tentunya ada pada pertanian dengan sistem yang membutuhkan air cukup banyak, misalnya pada lahan sawah irigasi. Pada lahan ini dapat dilakukan usaha tani berupa mina padi. Secara umum mina padi berarti memanfaatkan air pada saat penanaman padi untuk kehidupan ikan.
Sistem mina padi merupakan cara pemeliharaan ikan di sela-sela tanaman padi, sebagai penyelang diantara dua musim tanam padi atau pemeliharaan ikan sebagai pengganti palawija di persawahan. Jenis ikan yang dapat dipelihara pada sistem tersebut adalah ikan mas, nila, mujair, karper, tawes dan lain-lain. Ikan mas dan karper merupakan jenis ikan yang paling baik dipelihara di sawah, karena ikan tersebut dapat tumbuh dengan baik meskipun di air yang dangkal, serta lebih tahan terhadap matahari. Agar pertumbuhan tanaman padi tidak terganggu, pemeliharaan ikan di sawah harus disesuaikan dengan sistem pengairan yang ada, sehingga produksi padi tidak terganggu.
Usaha mina padi selain merupakan usaha yang menguntungkan, juga dapat meningkatkan pendapatan petani, serta membantu program pemerintah dalam usaha memenuhi gizi keluarga.

2.3.    Pertanian – Peternakan
Hubungan antara pertanian dengan peternakan dalam sistem pertanian terpadu sangat beraneka ragam, tergantung pada sudut pandang yang diambil. Salah satu manfaat dari mempelajari sistem pertanian terpadu adalah bisa mengetahui hubungan saling ketergantungan antara pertanian dengan peternakan. Selain itu dapat pula diketahui berbagai keuntungan yang bisa diambil saat mempelajari hubungan antara sistem pertanian dengan peternakan.
Keuntungan yang bisa diambil dari peternakan bagi pertanian adalah pemanfaatan tenaga hewan ternak untuk kepentingan pertanian. Contoh manfaat yang bisa diambil dari peternakan adalah kotoran hewan ternak dapat digunakan sebagai pupuk kandang bagi tanaman. Tenaga hewan ternak juga dapat digunakan sebagai tenaga pengolah lahan dan dapat juga dimanfaatkan sebagai tenaga pengangkutan hasil pertanian di  mana akan menghemat biaya karena tidak membutuhkan bahan bakar layaknya kendaraan bermotor.
Sama dengan peternakan, pertanian pun sangat bermanfaat bagi dunia peternakan. Salah satu faktor yang harus terpenuhi dalam peternakan adalah kebutuhan akan pakan ternak Dari pertanian akan dihasilkan bahan-bahan yang dapat diolah menjadi pakan ternak. Pertanian sangat berperan dalam memenuhi keutuhan pakan ternak karenatidak semua hewan ternak dapat diberi pakan dengan bahan makanan yang diambil dari alam. Banyak hewan ternak yang pemenuhan pakannya sangat bergantung pada pertanian. Contohhewan ternak yang membutuhkan pertanian adalah unggas. Pada umumnya unggas memakan biji-bijian di mana biji-bijian ini hanya akan diperoleh dengan pertanian. Oleh sebab itu, keberadaan pertanian menjadikan kebutuhan pakan ternak akan mudah terpenuhi.

2.4.    Pertanian – Wisata
Hubungan antara pertanian dengan wisata sering disebut dengan agrowisata. Agrowisata adalah salah satu bentuk pariwisata yang obyek wisata utamanya adalah lanskap pertanian, maka dapat dikatakan bahwa agrowisata merupakan wisata yang memanfaatkan obyek-obyek pertanian. Agrowisata juga merupakan kegiatan wisata yang terintegrasi dengan keseluruhan sistem pertanian dan pemanfaatan obyek-obyek pertanian sebagai obyek wisata, seperti teknologi pertanian maupun komoditi pertanian.
Beberapa sumber menjelaskan bahwa agrowisata adalah salah satu bentuk kegiatan wisata yang dilakukan di kawasan pertanian yang menyajikan suguhan pemandangan alam kawasan pertanian (farmland view) dan aktivitas di dalamnya seperti persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, pengolahan hasil panen sampai dalam bentuk siap dipasarkan dan bahkan wisatawan dapat membeli produk pertanian tersebut sebagai oleh-oleh. Agrowisata tersebut ikut melibatkan wisatawan dalam kegiatan-kegiatan pertanian.
Agrowisata umumnya berada pada daerah yang memiliki iklim dingin atau dengan kata lain ada pada dataran tinggi di mana pertanian dapat terlaksana dengan baik. Pengembangan wisata dengan metode pertanian memiliki kesenangan tersendiri. Di dalamnya para wisatawan dapat mengetahui lebih lanjut tentang pertanian dan bahkan dapat melakukannya. Pendekatan ini secara tidak langsung menambah pengetahuan mengenai pertanian bagi para wisatawan. Selain itu, dengan adanya agrowisata petani dan masyarakat sekitar pun  mendapatkan pendapatan yang lebih. Keberadaan tempat wisata menyebabkan masyarakat turut berperan dalam meramaikan pasarnya.
Manfaat lain dari agrowisata adalah kelestarian alam sekitar terjaga. Agrowisata pada prinsipnya merupakan kegiatan industri yang mengharapkan kedatangan konsumen secara langsung ditempat wisata yang diselenggarakan. Aset yang penting untuk menarik kunjungan wisatawan adalah keaslian, keunikan, kenyamanan, dan keindahan alam. Oleh sebab itu, faktor kualitas lingkungan menjadi modal penting yang harus disediakan, terutama pada wilayah-wilayah yang dimanfaatkan untuk dijelajahi para wisatawan. Menyadari pentingnya nilai kualitas lingkungan tersebut, masyarakat/ petani setempat perlu diajak untuk selalu menjaga keaslian, kenyamanan, dan kelestarian lingkungannya.

3.    Sumber Daya Produksi Pertanian
Sumber daya pertanian bisa merupakan input atau faktor-faktor produksi dalam proses produksi pertanian. Proses produksi pertanian adalah proses yang mengkombinasikan faktor-faktor produksi pertanian (input) untuk menghasilkan produksi pertanian (output). Fungsi produksi dalam teori produksi menggambarkan hubungan teknis yang merubah input (sumberdaya) menjadi output (komoditi) (Debertin, 1986).
Sumber daya produksi pertanian berasal dari dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. 
3.1.    Faktor Internal (Input)
Faktor internal terdiri dari lahan/ tanah, tenaga kerja, modal, lingkungan, teknologi, manajemen, dan karakteristik sosial petani (Jatileksono dalam Suhartini dkk, 2006)
a.    Lahan/ tanah: Lahan merupakan salah satu faktor produksi utama dalam proses produksi pertanian. Supply lahan jumlahnya tetap, sedangkan demand selalu meningkat dari waktu ke waktu, sehingga menyebabkan harga tanah selalu meningkat.
b.    Tenaga kerja: Tenaga kerja merupakan faktor yang sangat penting di dalam menjalankan proses produksi pertanian. Tenaga kerja ini terdiri dari tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja dari luar keluarga.
c.    Modal: Modal terdiri dari modal lancar (bibit/ benih, pupuk, dan pestisida) dan modal tetap seperti alat-alat pertanian (traktor, cangkul, sabit, alat perontok padi, bangunan, dll)
d.    Lingkungan: Pertanian sangat terkait dengan lingkungan, baik lingkungan sebagai sumberdaya yang digunakan dalam faktor produksi pertanian, maupun pertanian juga menghasilkan jasa lingkungan positif atau eksternalitas positif.
e.    Teknologi: Teknologi mempunyai peran penting dalam proses produksi pertanian, seperti teknologinmekanis (mesin), teknologi kimia (pupuk dan pestisida kimia), teknologi biologi ( ekstrak hayati dan nabati), dan teknologi asli/ lokal.
f.     Manajemen: Manajemen usahatani adalah kemampuan petani di dalam merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, mengkoordinasikan dan mengawasi faktor produksi yang dikuasai sehingga mampu menghasilkan produksi (output) seperti yang diharapkan.
g.    Karakteristik sosial petani: karakteristik sosial ekonomi petani juga mempengaruhi proses produksi pertanian, terutama berkaitan dengan proses pengambilan keputusan dalam pengelolaan usahatani, diantaranya adalah pendidikan petani, pengalaman petani, dan keanggotaan dalam organisasi misalnya kelompok tani dll.

3.2.    Faktor Eksternal (Output)
Faktor eksternal produksi pertanian lebih mengarah pada hasil produksi seperti pasca panen dan pemasaran hasil produksi pertanian.
Pasca panen membahas tentang manajemen hasil produksi, sedangkan pemasaran akan membahas tentang bagaimana sistem pemasarannya.

4.    HEIA, LEIA, dan LEISA Dalam usahatani
4.1.    HEIA (Height External Input Agriculture)
HEIA (High External Input Agriculture) merupakan sistem pertanian yang menggunakan input luar secara berlebihan (Reijntjes et al. 1999).
HEIA sangat tergantung pada input luar berupa senyawa kimia sintetis (pupuk, pestisida), benih hibrida, irigasi dan mekanisasi yang membutuhkan bahan bakar minyak. Sistem ini hanya mungkin diterapkan pada daerah yang kondisi ekologinya relatif seragam, berpotensi besar dan mudah dijangkau sistem komunikasi serta transportasi. Pemanfaatan input luar yang berlebihan, walaupun dapat meningkatkan produksi secara signifikan, mengakibatkan pengaruh negatif terhadap kondisi ekologi, ekonomi dan sosial. Revolusi hijau yang merupakan menifestasi dari sistem ini mengakibatkan peningkatan harga pupuk, pestisida kimia dan bahan bakar, namun sebaliknya menurunkan harga komoditas pertanian akibat produksi yang berlebihan. Hal ini tentu saja sangat merugikan petani. Selain itu ketergantungan akan pupuk dan pestisida sintetis semakin meningkat terus menerus dan menimbulkan pengaruh buruk pada keseimbangan lingkungan dan kesehatan manusia.


4.2.    LEIA (Low External Input Agriculture)
LEIA (Low External Input Agriculture) merupakan sistem yang memanfaatkan sumber daya lokal yang sangat intensif dengan sedikit atau sama sekali tidak menggunakan input luar sehingga terjadi degradasi sumber daya alam (Reijntjes et al. 1999).
LEIA pada umumnya dipraktekkan di wilayah miskin, bermasalah, dengan lingkungan fisik serta infrastruktur yang kurang berkembang sehingga tidak memungkinkan pemanfaatan input luar secara luas. Dalam sistem LEIA yang berfungsi baik tumbuhan dan hewan tidak hanya memiliki fungsi produktif melainkan juga fungsi ekologis, yaitu menghasilkan bahan organik, memompa hara, mengendalikan erosi dan sebagainya sehingga menjamin ketersediaan input dalam. Tetapi fungsi ekologis ini sering lebih rendah dari yang seharusnya karena manusia mengambil bagian produksi dari ekosistem tersebut. Akibatnya produksi tanaman menurun, dan untuk mengimbanginya petani mengeksploitasi lahan mereka sampai melampui kapasitas lahan.

4.3.    LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture)
LEISA menurut Reijntjes et al. (1999) dan Plucknert dan Winkelmann (1995) tidak bertujuan untuk mencapai produksi maksimal dalam jangka pendek, melainkan untuk mencapai tingkat produksi yang stabil dan memadai dalam jangka panjang. Sistem ini mengacu pada ciri-ciri:
a.    berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usaha tani (tanaman, hewan, tanah, air, iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang besar.
b.    berusaha mencari cara pemanfaatan input luar hanya bila diperlukan untuk melengkapi unsur-unsur yang kurang dalam ekosistem dan meningkatkan sumber daya biologi, fisik dan manusia. Dalam memanfaatkan input luar ditekankan pada maksimalisasi daur ulang dan minimalisasi kerusakan lingkungan.
Prinsip-prinsip dasar ekologi pada LEISA berdasarkan Reijntjes et al. (1999) dikelompokkan sebagai berikut:
a.    menjamin kondisi tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman, khususnya dengan mengelola bahan organik dan meningkatkan kehidupan dalam tanah.
b.    mengoptimalkan ketersediaan dan menyeimbangkan arus unsur hara, khususnya melalui pengikatan nitrogen, pemompaan unsur hara, dan pemanfaatan pupuk luar sebagai pelengkap.
c.    meminimalkan kerugian sebagai akibat radiasi matahari, udara dan air dengan pengelolaan iklim mikro, pengeloaan air dan pengendalian erosi.
d.    meminimalkan serangan hama dan penyakit terhadap tanaman dan hewan melalui pencegahan dan perlakuan yang aman.
e.    saling melengkapi dan sinergis dalam penggunaan sumber daya genetik yang mencakup penggabungan dalam sistem pertanian terpadu dengan tingkat keanekaragaman fungsional yang tinggi.
Perwujudan pertanian ideal semacam itu akan dipercepat dengan partisipasi bersama antara ilmuwan dan petani. Ilmuwan menyumbangkan hasil pengkajian dan penelitian yang relevan untuk pelaksanaan sistem tersebut, dan petani mengembangkan pengalaman yang dinilai efektif. Selama ini banyak petani yang melakukan kegiatan usaha tani tertentu yang mungkin tidak mereka pahami aspek ilmiahnya, namun secara turun temurun dilakukan karena menunjukkan hasil yang efektif. Petani dan ilmuwan harus bekerja sama agar pengalaman praktis dan pemahaman ilmiah dapat dipadukan sehingga diharapkan efektivitasnya meningkat. Misalnya, salah satu kebiasaan petani mengendalikan gulma dengan memberi mulsa menggunakan organ-organ tumbuhan tertentu sebenarnya merupakan aplikasi dari mekanisme fisiologi tumbuhan, yaitu alelopati, yang mempunyai peluang besar untuk dikembangkan melalui penelitian.

5.    Analisis Usahatani Jagung dalam Sistem Usahatani Campuran
Menghitung keuntungan bersih dan penjelasan bagaimana cara memaksimalkan keuntungan dari analisis usahatani jagung dalam sistem usaha tani campuran (Mixed Farming System) terpadu dengan pendapatan 3,5 ton dengan penjualan Rp. 2.500 dalam kasus dibawah ini:
KETERANGAN
QTY
SATUAN
HARGA (RP)
TOTAL (RP)
Benih Jagung
10
kg
50.000
500.000
Pupuk
1.    Urea
2.    TSP 36
3.    KCL

250
75
40

Kg
Kg
kg

1.800
2.000
1.950

450.000
150.000
78.000
Insektisida
2
Lt
50.000
100.000
Tenaga Kerja
1.    Pengolahan lahan (3 hr)
2.    Penanaman (2 hr)
3.    Penyiangan dan pembumbunan (borongan)
4.    Pemupukan (2 hr)
5.    Pemeliharaan lain

4
3
1

2
1

Org
Org
Paket

Org
keg

40.000
40.000
100.000

40.000
100.000

480.000
240.000
100.000

160.000
100.000
Penen
1
keg
150.000
150.000
Biaya lain-lain
1
Keg
100.000
100.000
Jumlah


675.750
2.608.000
Keuntungan Bersih



6.142.000

Cara kerja:
keuntungan bersih = jumlah pendapatan – jumlah modal
= Rp. 8.750.000 – Rp. 2.608.000
= Rp. 6.142.000
Cara menghitung pendapatan adalah hasil panen (3,5 ton = 3.500 kg) dikalikan dengan harga penjualan (Rp. 2.500/ kg), maka didapatkan hasil Rp. 8.750.000.
Cara menghitung keuntungan bersih adalah jumlah pendapatan (Rp. 8.750.000) dikurangi dengan jumlah modal keseluruhan (Rp. 2.608.000), maka didapatkan hasil sejumlah Rp. 6.142.000.



DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2005. Principles of Organic Agriculture. IFOAM. http://www.ifoam.org.
Anonymous. 2000. Organic Farming. Agriculture, Food and Rural Revitalization, Saskatchewan. Canada.
Untung, K.1984. Pengantar Analisis Pengendalian Hama Terpadu. Andi Offset. Yogyakarta. 92h.
Sullivan P, and Diver, S. 2001. Overview of Cover Crops and Green Manures. Appropriate Technology Transfer for Rural Areas. www.attra.ncat.org.
Debertin, D,L. 1986. Agricultural Produktion Economics. Macmillan Publishing Company New York. Collier Macmillan Publishers London.
Suhartini, Sri Widodo, Irham, S. Hartono. 2006. Kualitas Lingkungan Usahatani Padi Organik dan Pengaruhnya pada Keuntungan Usahatani. Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian “AGROS”. Universitas Janabadra. Yogyakarta.
Plucknert, Winkelmann DI. 1992. Technology for Sustainable Agriculture. Scientific American. 182 – 186.

Reijntjes C, Haverkort B, Waters-Bayers A. 1999. Pertanian Masa Depan. Diterjemahkan oleh Y. Sukoco. Yogyakarta: Kanisius.